Sabtu, 28 November 2015

Konflik dan Negosiasi

I. KASUS

PT Golden Castle , bergerak dalam bidang konveksi atau textil, mengalami konflik antara perusahaan dengan karyawan. Konflik ini terjadi yang disebabkan oleh adanya miss communication antar atasan dengan karyawan. Adanya perubahan kebijakan dalam perusahaan mengenai penghitungan gaji atau upah kerja karyawan , namun pihak perusahaan belum memberitahukan para karyawan, sehingga karyawan merasa diperlakukan semena-mena oleh pihak perusahaan. Para karyawan mengambil tindakan yaitu dengan mendemo perusahaan, Namun tindakan ini berujung pada PHKbesar-besaran yang dilakukan oleh perusahaan.

II. TEORI

A. Pengertian Konflik
Robbins (1996) dalam “Organization Behavior” menjelaskan bahwa konflik adalah suatu proses interaksi yang terjadi akibat adanya ketidaksesuaian antara dua pendapat (sudut pandang) yang berpengaruh atas pihak-pihak yang terlibat baik pengaruh positif maupun pengaruh negative. Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.

B. Pandangan Tentang Konflik
Terdapat tiga sudut pandang atau pandangan terhadap konflik yang terjadi dalam organisasi, antara lain:
1.      Pandangan Tradisional
Pandangan tradisional menyatakan bahwa konflik dipandang sebagai sesuatu yang jelek, tidak menguntungkan, dan selalu menimbulkan kerugian dalam organisasi. Oleh karena itu konflik harus dicegah dan dihindari sebisa mungkin dengan mencari akar permasalahannya (Muhyadi dalam Soetopo, 2010).
2.      Pandangan Hubungan Kemanusiaan (Behavioral)
Pandangan ini menyatakan bahwa konflik merupakan peristiwa yang wajar dalam semua kelompok organisasi (Robbins, 2002). Menurut Soetopo (2010), tanpa diciptakan konflik mesti terjadi dalam organisasi. Atas dasar itu, konflik tidak selamanya merugikan, tetapi juga menguntungkan. Oleh sebab itu, konflik yang terjadi harus dikelola dengan baik.
3.      Pandangan Interaksi
Pandangan ini menganggap bahwa konflik dalam organisasi perlu diciptakan. Konfik bukan hanya suatu kekuatan positif dalam suatu organisasi tetapi juga diperlukan agar kinerja organisasi lebih efektif. Selain itu, organisasi yang tenang, harmonis, penuh kedamaian, maka kondisinya akan menjadi statis dan tidak inovatif. Akibat selanjutnya adalah organisasi tersebut tidak dapat bersaing untuk maju.

C. Proses Konflik
Proses konflik terdiri dari 5 tahap yaitu :
a.      Tahap I Potensi Oposisi dan Ketidakcocokan
Kondisi yang menciptakan terjadinya konflik meskipun kondisi tersebut tidak mengarah langsung ke konflik. Kondisi ini antara lain disebabkan oleh :
Ø  Komunikasi : Komunikasi yg kurang baik dalam organisasi shg menimbulkan ketidaknyamanan antar anggota organisasi.
Ø  Struktur : Tuntutan pekerjaan menyebabkan ketidaknyamanan antar anggota organisasi.
Ø  Variabel Pribadi : Ketidaksukaan pribadi atas individu lain.
b.      Tahap II Kognisi dan Personalisasi
Apabila pada tahap I muncul kondisi yang negatif, maka pada tahap ini kondisi tersebut didefinisikan, sesuai persepsi pihak yang berkonflik.
Ø  Konflik yang dipersepsikan : kesadaran satu pihak atau lebih atas adanya konflik yang menciptakan peluang terjadinya konflik.
Ø  Konflik yang dirasakan : keterlibatan emosional saat konflik yang menciptakan kecemasan, ketegangan, frustasi, atau kekerasan.
c.      Tahap III maksud
Maksud berada di antara persepsi dan emosi orang serta perilaku terang- terangan mereka. Maksud merupakan keputusan untuk bertindak dalam cara tertentu.
Ø  Persaingan : keinginan memuaskan kepentingan seseorang, tidak mempedulikan dampak pada pihak lain dalam konflik tsb.
Ø  Kolaborasi : situasi yg di dalamnya pihak2 yg berkonflik sepenuhnya saling memuaskan kepentingan semua pihak.
Ø  Penghindaran : keinginan menarik diri dari konflik.
Ø  Akomodasi : kesediaan satu pihak dlm konflik u/  memperlakukan kepentingan pesaing di atas kepentinganya sendiri.
Ø  Kompromi : satu situasi yg di dalamnya masing2 pihak yg berkonflik bersedia mengorbankan sesuatu.
d.      Tahap IV Perilaku
Pada tahap ini konflik tampak nyata, mencakup pernyataan, tindakan dan reaksi yg dibuat pihak2 yg berkonflik.
e.      Tahap V Hasil
Pada tahap ini konflik dapat ditentukan apakah merupakan Konflik fungsional atau konflik disfungsional. Bila hasilnya konflik fungsional maka biasanya berfokus pada konflik tugas dan konflik proses serta menghilangkan keberagaman hubungan. Tetapi bila hasilnya konflik disfungsional maka harus diredakan. Untuk meredakan konflik disfungsional perlu adanya manajamen konflik.

D. Pengertian Negosiasi
Negosiasi menurut Ivancevich (2007) sebuah proses di mana dua pihak ( atau lebih ) yang berbeda pendapat berusaha mencapai kesepakatan. Menurut Sopiah (2008), negosiasi merupakan suatu proses tawar-menawar antara pihak-pihak yang terlibat dalam konflik. Sedangkan Robbins ( 2008) menyimpulkan negosiasi adalah sebuah proses di mana dua pihak atau lebih melakukan pertukaran barang atau jasa dan berupaya untuk menyepakati nilai tukarnya. Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa negosiasi adalah suatu upaya yang dilakukan antara pihak-pihak yang berkonflik dengan maksud untuk mencari jalan keluar untuk menyelesaikan pertentangan yang sesuai kesepakatan bersama.

E. Strategi Negoisasi
Ada 2 macam strategi yang di gunakan dalam negosiasi, yaitu:
1)      Negosiasi distributive
Negosiasi yang berupaya membagi sumberdaya yang jumlahnya tetap; situasi menang kalah.
2)      Negosiasi intergratif
Perundingan yang mencari satu penyelesaian atau lebih yang dapat menciptakan penyelesaian menang-menang.

E. Proses Negosiasi
Ada 5 langkah dalam proses negosiasi yaitu :
  • Persiapan dan perencanaan: menentukan sasaran dan apa yang anda inginkan dalam perundingan itu.
  • Definisi aturan dasar: mantapkan aturan dasar dan prosedur dari semua pihak mengenani perundingan itu.Penjelasan dan pembenaran: bila pendirian awal telah di pertukarkan, anda dan pihak lain akan menerangkan permintaan anda lebih detail.
  • Tawar menawar dan pemecahan masalah: proses actual member dan menerima sebagai upaya memperbincangkan persetujuan.
  • Penutupan dan implemetasi: menformalkan persetujuan yang telah diwujudkan dan menyusun setiap prosedur yang di perlukan untuk pelaksanaan dan pemantauan.
III. PENJELASAN KASUS
Konflik itu sendiri merupakan proses yang dimulai bila satu pihak merasakan bahwa pihak lain telah mempengaruhi secara negatif atau akan segera mempengaruhi secara negatif. Faktor-faktor kondisi konflik (Robbins, Sthepen ,2003, Perilaku Organisasi):
a. Harus dirasakan oleh pihak terkait.
b. Merupakan masalah persepsi.
c. Ada oposisi atau ketidakcocokan tujuan, perbedaan dalam penafsiran fakta,
                ketidaksepakatan pada pengharapan perilaku
d. Interaksi negatif-bersilangan
e. Ada peringkat konflik dari kekerasan sampai lunak.
Konflik yang sering terjadi biasanya adalah karena masalah kominikasi yang kurang baik. Sehingga cara mengatasi konflik dalam perusahaan harus benar-benar dipahami management inti dari perusahaan, untuk meminimalisir dampak yang timbul.
Permasalahan atau konflik yang terjadi antara karyawan atau karyawan dengan atasan yang terjadi karena masalah komunikasi harus di antisipasi dengan baik dan dengan system yang terstruktur. Karena jika masalah komunikasi antara atasan dan bawahan terjadi bias-bisa terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya mogok kerja, bahkan demo. Sehingga untuk mensiasati masalah ini bias dilakukan dengan berbagai cara.
a. Membentuk suatu system informasi yang terstruktur, agar tidak terjadi kesalahan dalam
                komunikasi. Misalnya, dengan membuat papan pengumungan atau pengumuman melalui
                loudspeaker.
b. Buat komunikasi dua arah antara atasan dan bawahan menjadi lancer dan harmonis,
                misalnya dengan membuat rapat rutin, karena dengan komunikasi yang dua arah dan
                intens akan mengurangi masalah di lapangan.
c. Beri pelatihan dalam hal komunikasi kepada atasan dan karyawan, pelatihan akan
                memberikan pengetahuan dan ilmu baru bagi setiap individu dalam organisasi dan
                meminimalkan masalah dalam hal komunikasi

IV. KESIMPULAN
Konflik berasal dari kata kerja latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.
Negosiasi adalah sesuatu yang kita lakukan setiap saat dan terjadi hampir di setiap aspek kehidupan kita. Selain itu negosiasi adalah cara yang paling efektif untuk mengatasi dan menyelesaikan konflik atau perbedaan kepentingan.
Dalam banyak hal, negosiasi justru tidak terselesaikan di meja perundingan atau meja rapat formal, tetapi justru dalam suasana yang lebih informal dan relaks, di mana kedua pihak berbicara dengan hati dan memanfaatkan sisi kemanusiaan pihak lainnya. Karena pada dasarnya selain hal-hal formal yang ada dalam proses negosiasi, setiap manusia memiliki keinginan, hasrat, perasaan, nilai-nilai dan keyakinan yang menjadi dasar bagi setiap langkah pengambilan keputusan yang dilakukannya.



DAFTAR PUSTAKA

http://ekoriyadi384.blogspot.co.id/2013/12/konflik-dalam-perusahaan.html
https://kahfiehudson.wordpress.com/2011/12/13/konflik-dalam-organisasi/
http://tugaskuliahanakmenej.blogspot.co.id/2011/06/konflik-dalam-perilaku-organisasi.html
http://blognyararatatanana.blogspot.co.id/2012/11/konflik-dan-negosiasi.html
http://pomanbis.blogspot.co.id/2014/05/konflik-dan-negosiasi-dalam-sebuah.html
https://marwanhkm.wordpress.com/2012/05/02/makalah-prilaku-organisasi-konflik-dan-negoisasi/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar