Sabtu, 21 November 2015

Leadership, Power, and Politics



I.                 CONTOH KASUS

      Bank Seruni Indonesia adalah bank terbesar di Yogyakarta. Bank ini mempunyai empat cabang yang tersebar di  empat kabupaten di DIY. Selama beberapa bulan manajemen telah dan sedang mempertimbangkan suatu perubahan prosedur-prosedur evaluasi latihan. Suatu perubahan yang akan mempengaruhi baik departemen personalia maupun para manajer cabang. Rencana tersebut telah didiskusikan dengan semua orang yang akan dikenai, dan sebagian dari mereka  menentang perubahan itu. Penyelia latihan, Atika Nurhadi, adalah salah seorang penentang yang paling keras.
      Setelah diskusi dengan para pengelola bank lainnya, wakil direktur bidang personalia, Ramona Dangdut, memutuskan untuk mengimplementasikan perubahan. Dia membentuk dan menyeleksi para anggota satuan tugas khusus untuk mengimplmentasikan perubahan dan memilih Atika sebagai kepala satuan kerja tersebut. Ketika Ramona meminta kesediaan Atika, dia menerima jabatan itu kemudian berkata : “Bapak tahu bahwa saya menentang perubahan ini. Mengapa bapak memilih saya sebagai pimpinan?”.
      Ramona menimpali : “Ya, saya mngetahui ketidaksetujuan saudara. Kami memilih saudari karena kami menganggap bahwa bila ada berbagai kekurangan dalam usulan perubahan, saudari akan menemukannya. Dan kami percaya bahwa saudari dapat membetulkannya.”

II.               TEORI

A.     KEPEMIMPINAN

Ø  Pengertian Kepemimpinan
Kepemimpinan berasal dari kata bahasa inggris, yaitu leadership. Kepemimpinan adalah proses memengaruhi atau memberi contoh oleh pemimpin kepadapengikutnya dalam upaya mencapai tujuan organisasi.

Ø  Fungsi Kepemimpinan
1.      Fungsi Instruksi
Fungsi ini bersifat satu arah. Pemimpin sebagai komunikator merupakan pihak yang menentukan apa, bagaimana, bilamana dan dimana perintah itu dikerjakan agar keputusan dapat dilaksanakan secara efektif. Kepemimpinan yang efektif memerlukan kemampuan untuk menggerakkan dan memotivasi orang lain agar mau melaksanakan perintah.
2.      Fungsi Konsultasi
Fungsi ini bersifat dua arah. Pada tahap pertama dalam usaha menetapkan keputusan, pemimpin kerap kali memerlukan bahan pertimbangan yang mengharuskannya berkonsultasi dengan orang-orang yang dipimpinnya yang dinilai mempunyai bahan informasi yang diperlukan dalam menetapkan suatu keputusan. Tahap berikutnya konsultasi dari pimpinan pada orang-orang yang dipimpin dapat dilakukan setelah keputusan ditetapkan dan sedang dalam pelaksanaan. Konsultasi itu dimaksudkan untuk memperoleh masukan berupa umpan balik (feed back) untuk memperbaiki dan menyempurnakan keputusan-keputusan yang telah ditetapkan dan dilaksanakan. Dengan menjalankan fungsi konsultatif dapat diharapkan keputusan-keputusan pimpinan akan mendapat dukungan dan lebih mudah menginstruksikannya, sehingga kepemimpinan berlangsung efektif.
3.      Fungsi Partisipasi
Dalam menjalankan fungsi ini pemimpin berusaha mengaktifkan orang-orang yang dipimpinnya, baik dalam keikutsertaan mengambil keputusan maupun dalam melaksanakannya. Partisipasi bukan berarti bebas berbuat semaunya, tetapi dilakukan secara terkendali dan terarah berupa kerja sama dengan tidak mencampuri atau mengambil tugas pokok orang lain.  Keikutsertaan pemimpin harus tetap dalam fungsi sebagai pemimpin dan bukan sebagai pelaksana.
4.      Fungsi Delegasi
Fungsi ini dilaksanakan dengan memberikan pelimpahan wewenang membuat/menetapkan keputusan, baik melalui persetujuan maupun tanpa persetujuan dari pimpinan. Fungsi delegasi pada dasarnya berarti kepercayaan orang-orang penerima delegasi itu harus yakin merupakan pembantu pimpinan yang memiliki kemampuan prinsip, persepsi dan aspirasi.
5.      Fungsi Pengendalian
Fungsi pengendalian bermaksud bahwa kepemimpinan yang sukses/efektif mampu mengatur aktivitas anggotanya secara terarah dan dalam koordinasi yang efektif, sehingga memungkinkan tercapainya tujuan bersama secara maksimal. Fungsi pengendalian dapat diwujudkan melalui kegiatan bimbingan, pengarahan, koordinasi, dan pengawasan.

Ø  Sikap Kepemimpinan Dalam Organisasi yang Baik
1.      Tindakan kepemimpinan yang efektif
Penting bagi seorang pemimpin untuk dapat dipercaya dan memiliki karakter yang kuat. Seorang pemimpin harus mampu memimpin para pengikutnya. Kepemimpinan dalam organisasi yang efektif harus melibatkan  dan membimbing para pengikutnya ke arah yang benar, membantu mereka mencapai tujuan yang diharapkan. Adapun strategi kepemimpinan yang efektif diantaranya :
a.      Mengetahui keadaan anak buah
b.      Menghargai orang lain
2.      Menjadi Antusias
Seorang pemimpin organisasi yang antusias  adalah pemimpin yang baik. Tujuannya adalah memotivasi pengikutnya untuk bekerja dan merealisasikan rencana. Keterampilan kepemimpinan dalam organisasi sangat mendorong para pengikutnya untuk mengambil upaya menuju tujuan yang diharapkan dalam organisasi. Seorang pemimpin yang antusias dan berpikiran terbuka akan lebih didekati oleh para pengikutnya.
3.      Menjadi percaya diri
Kepercayaan diri adalah penentu kunci dari kepemimpinan dalam organisasi. Tanpa kepercayaan diri, seorang pemimpin tidak bisa mengharapkan orang lain untuk mengikutinya. Kepercayaan diri yang dimiliki seorang pemimpin dalam dirinya, diterjemahkan ke dalam tindakan untuk mengambil keputusan yang tepat dan tindakan yang efektif.
4.      Sikap tenang
Mampu bersikap tenang dalam setiap situasi adalah bagian penting dari menjadi seorang pemimpin yang baik. Rasa tenang membantu dalam mengambil keputusan yang tepat. Dalam situasi apapun pemimpin tidak boleh kehilangan ketenangan karena hal itu akan mengganggu proses pengambilan keputusan organisasi dan berpengaruh pada tujuan organisasi.

B.     POWER DAN POLITICS

v  Pengertian Kekuasaan (Power)
Kekuasaan (Power) mengacu pada kemampuan yang dimiliki A untuk memengaruhi perilaku B sehingga B bertindak sesuai dengan keinginan A. Mungkin aspek terpenting dari kekuasaan adalah bahwa hal ini merupakan fungsi ketergantungan (dependency). Semakin besar ketergantungan B pada A, semakin besar pula kekuasaan A dalam hubungan tersebut

v  Landasan Kekuasaan
1.      Kekuasaan Formal
Kekuasaan formal didasarkan pada posisis seorang individu dalam sebuah organisasi. Kekuasaan formal dapat berasal dari kemampuan untuk memaksa atau memberi imbalan, atau dari wewenang formal.
a.      Kekuasaan Koersif
Landasan kekuasaan koersif (coercive power) adalah rasa takut. Seseorang memberikan reaksinya terhadap kekuasaan ini karena rasa takut terhadap akibat-akibat negatif yang mungkin terjadi jika ia tidak patuh. Kekuasaan koersif mengandalkan aplikasi, atau ancaman aplikasi, sanksi fisik, yang menimbulkan rasa sakit, menimbulakan frustrasi melalui pembataasan gerak, atau pengendalian paksa terhadap kebutuhan dasar fisiologis atau keamanan.
b.      Kekuasaan Imbalan
Kebalikan dari kekuasaan koersif adalah kekuasaan imbalan (reward power). Orang memenuhi keinginan atau arahan orang lain karena dengan berbuat demikain, ia akan mendapatkan manfaat positif. Karena itu, seseorang yang dapat membagikan imbalan atau penghargaan yang dipandang orang lain bernilai akan memiliki kekuasaan atas orang lain itu. Imbalan ini bersifat finansial – seperti pengendalian tingkat upah, kenaikan upah, dan bonus; atau nonfinansial – termasuk pengakuan, promosi, penugasan kerja yang menarik kolega yang ramah, dan wilayah kerja atau wilayah penjualan yang lebih disukai.
c.      Kekuasaan Legitimasi
Dalam kelompok atau organisasi formal, mungkin akses yang paling mudah ditemui pada satu atau lebih landasan kekuasaan adalah posisi struktural seseorang. Hal ini disebut kekuasaan legitimasi (legitimate power). Kekuasaan ini melambangkan kewenangan formal untuk mengendalikan dan memanfaatkan sumber-sumber daya organisasi.
2.      Kekuasaan Pribadi
a.      Kekuasaan karena Keahlian
Kekuasaan karena keahlian (expert power) adalah pengaruh yang diperoleh dari keahlian, keterampilan khusus, atau pengetahuan. Keahlian telah menjadi salah satu sumber pengaruh yang paling kuat karena dunia sudah semakin berorientasi pada teknologi. Karena pekerjaan semakin terspesialiasi, kita menjadi semakin bergantung kepada para ahli untuk mencapai tujuan
b.      Kekuasaan Rujukan
Kekuasaan rujukan (referent power) didasarkan pada identifikasi terhadap seseorang yang memiliki sumber daya atau sifat-sifat personal yang menyenangkan. Jika saya menyukai, menghormati, dan mengagumi Anda, Anda dapat menjalankan kekuasaan atas saya karena  saya inginkan menyenangkan hati Anda. Kekuasaan rujukan berkembang dari kekaguman terhadap orang lain dan hasrat untuk menjadi seperti orang itu.

v  Pengertian Politik (Politic)
Dalam kasus ini perilaku politik didefinisikan sebagai aktivitas yang tidak dianggap sebagai bagian dari peran formal seseorang dalam organisasi, namun yang mempengaruhi atau berusaha mempengaruhi  distribusi keuntungan dan kerugian didalam organisasi tersebut.

v  Faktor-faktor yang Berkontribusi terhadap Perilaku Politik
Tidak semua kelompok atau organisasi sama politisnya. Penelitian dan observasi baru-baru ini telah mengidentifikasikan beberapa faktor yang kiranya mendorong perilaku poltik. Faktor-faktor tersebut adalah faktor individu dan faktor organisasi.
a)      Faktor Individu
·        Kemampuan merefleksi diri yang baik
·        Pusat Kendali Internal
·        Kepribadian yang lincah
·        Investasi Organisasi
·        Alternatif pekerjaan lain
·        Harapan akan kesuksesan
b)      Faktor Organisasi
·        Realokasi sumber daya
·        Peluang promosi
·        Tingkat kepercayaan rendah
·        Ambiguitas peran
·        Sistem evaluasi kerja tidak jelas
·        Praktik imbalan zero-sum
·        Pengambilan keputusan yang demokratis
·        Tekanan kinerja tinggi
·        Manajer senior yang egois

III.              PEMBAHASAN KASUS
Ramona menyadari bahwa orang yang paling menentang itu merupakan orang yang paling tahu akan kelemahan dari perubahan tersebut. Dengan hal itu ia berpendapat bahwa orang yang lebih tahu akan kelemahan perubahan tersebut layak untuk menjadi pemimpin dibandingkan dengan yang menyetujuinya. Dalam kasus ini Ramona merupakan tipe pemimpin yang demokratis, dia mempertimbangkan pendapat-pendapat dari bawahannya, melakukan musyawarah dan memberikan kesempatan terhadap pihak oposisinya. Saya setuju dengan tindakan Ramona, hal ini disebabkan dengan menempatkan pemimpin oposisi yang mengetahui kelemahan serta kekurangan dari perubahan yang akan diimplementasikan, maka pemimpin tersebut diharapkan akan melakukan perubahan dan perbaikan sehingga perubahan itu dapat semakin berkembang dan menjadi lebih baik lagi.

IV.              KESIMPULAN
      Dalam sebuah organisasi tentunya harus mempunyai seorang pemimpin yang dapat mengatur sumber daya organisasi agar dapat mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien sehingga berdaya guna dan berhasil guna. Seorang pemimpin memiliki gaya kepemimpinannya masing-masing yang berbeda satu sama lain. Saat ini, terdapat enam tipe kepemimpinan yang sering digunakan oleh para pemimpin besar maupun dalam ruang lingkup kelompok sampai organisasi besar. Efektivitas dalam sebuah kelompok dapat ditentukan juga oleh sikap dan perilaku seorang pemimpin.
      Pada hakekatnya, kekuasaan merupakan kapasitas yang dimiliki seseorang untuk mempengaruhi cara berpikir dan berperilaku orang lain sesuai dengan yang diinginkannya. Kekuasaan tersebut dapat diperoleh dari berbagai sumber yang dibedakan menjadi kekuasaan formal dan kekuasaan personal. Kekuasaan biasanya identik dengan politik. Politik sendiri diartikan sebagai upaya untuk ikut berperan serta dalam mengurus dan mengendalikan urusan masyarakat. Penyalahgunaan kekuasaan pada dunia politik yang kerap dilakukan oleh pelaku politik menimbulkan pandangan bahwa tujuan utama berpartisipasi politik hanyalah untuk mendapatkan kekuasaan. Padahal, pada hakekatnya penggunaan kekuasaan dalam politik bertujuan untuk mengatur kepentingan masyarakat seluruhnya, bukan untuk kepentingan pribadi ataupun kelompok. Untuk itu, adanya pembatasan kekuasaan sangat diperlukan agar tumbuh kepercayaan masyarakat terhadap pemegang kekuasaan dan terciptanya keadilan serta kenyamanan dalam kehidupan.




DAFTAR ISI
http://fachmixyz.blogspot.co.id/2015/04/kepemimpinan.html
http://locusfisipunipas.blogspot.co.id/2013/12/kepemimpinan-dalam-organisasi.html
http://sopianamilah.blogspot.co.id/2012/07/kekuasaan-dan-politik.html
http://wendrastari.blogspot.co.id/2014/01/teori-dan-contoh-kasus-kepemimpinan.html
http://israyanibeta.blogspot.co.id/2013/11/perilaku-organisasi.html

1 komentar: