I.
CONTOH KASUS
Bank Seruni Indonesia adalah
bank terbesar di Yogyakarta. Bank ini mempunyai empat cabang yang tersebar
di empat kabupaten di DIY. Selama beberapa bulan manajemen telah dan
sedang mempertimbangkan suatu perubahan prosedur-prosedur evaluasi latihan.
Suatu perubahan yang akan mempengaruhi baik departemen personalia maupun para
manajer cabang. Rencana tersebut telah didiskusikan dengan semua orang yang
akan dikenai, dan sebagian dari mereka menentang perubahan itu. Penyelia
latihan, Atika Nurhadi, adalah salah seorang penentang yang paling keras.
Setelah diskusi dengan para pengelola
bank lainnya, wakil direktur bidang personalia, Ramona Dangdut, memutuskan
untuk mengimplementasikan perubahan. Dia membentuk dan menyeleksi para anggota
satuan tugas khusus untuk mengimplmentasikan perubahan dan memilih Atika
sebagai kepala satuan kerja tersebut. Ketika Ramona meminta kesediaan Atika,
dia menerima jabatan itu kemudian berkata : “Bapak tahu bahwa saya menentang
perubahan ini. Mengapa bapak memilih saya sebagai pimpinan?”.
Ramona menimpali : “Ya, saya mngetahui
ketidaksetujuan saudara. Kami memilih saudari karena kami menganggap bahwa bila
ada berbagai kekurangan dalam usulan perubahan, saudari akan menemukannya. Dan
kami percaya bahwa saudari dapat membetulkannya.”
II.
TEORI
A. KEPEMIMPINAN
Ø
Pengertian Kepemimpinan
Kepemimpinan
berasal dari kata bahasa inggris, yaitu leadership. Kepemimpinan adalah proses memengaruhi atau memberi contoh
oleh pemimpin kepadapengikutnya dalam upaya mencapai tujuan organisasi.
Ø
Fungsi
Kepemimpinan
1.
Fungsi
Instruksi
Fungsi ini
bersifat satu arah. Pemimpin sebagai komunikator merupakan pihak yang menentukan
apa, bagaimana, bilamana dan dimana perintah itu dikerjakan agar keputusan
dapat dilaksanakan secara efektif. Kepemimpinan yang efektif memerlukan
kemampuan untuk menggerakkan dan memotivasi orang lain agar mau melaksanakan
perintah.
2.
Fungsi Konsultasi
Fungsi ini
bersifat dua arah. Pada tahap pertama dalam usaha menetapkan keputusan, pemimpin kerap kali memerlukan bahan pertimbangan yang
mengharuskannya berkonsultasi dengan orang-orang yang dipimpinnya yang dinilai mempunyai bahan informasi yang
diperlukan dalam menetapkan suatu keputusan. Tahap berikutnya konsultasi dari
pimpinan pada orang-orang yang dipimpin dapat dilakukan setelah keputusan
ditetapkan dan sedang dalam pelaksanaan. Konsultasi itu dimaksudkan untuk
memperoleh masukan berupa umpan balik (feed
back) untuk memperbaiki dan menyempurnakan keputusan-keputusan yang telah
ditetapkan dan dilaksanakan. Dengan menjalankan fungsi konsultatif dapat
diharapkan keputusan-keputusan pimpinan akan mendapat dukungan dan lebih mudah
menginstruksikannya, sehingga kepemimpinan berlangsung efektif.
3.
Fungsi
Partisipasi
Dalam
menjalankan fungsi ini pemimpin berusaha mengaktifkan orang-orang yang
dipimpinnya, baik dalam keikutsertaan mengambil keputusan maupun dalam
melaksanakannya. Partisipasi bukan berarti bebas berbuat semaunya, tetapi
dilakukan secara terkendali dan terarah berupa kerja sama dengan tidak
mencampuri atau mengambil tugas pokok orang lain. Keikutsertaan pemimpin harus tetap dalam
fungsi sebagai pemimpin dan bukan sebagai pelaksana.
4.
Fungsi Delegasi
Fungsi ini
dilaksanakan dengan memberikan pelimpahan wewenang membuat/menetapkan
keputusan, baik melalui persetujuan maupun
tanpa persetujuan dari pimpinan. Fungsi delegasi pada dasarnya berarti
kepercayaan orang-orang penerima delegasi itu harus yakin merupakan pembantu
pimpinan yang memiliki kemampuan prinsip, persepsi dan aspirasi.
5.
Fungsi
Pengendalian
Fungsi
pengendalian bermaksud bahwa kepemimpinan yang sukses/efektif mampu mengatur
aktivitas anggotanya secara terarah dan dalam koordinasi yang efektif, sehingga
memungkinkan tercapainya tujuan bersama secara maksimal. Fungsi pengendalian
dapat diwujudkan melalui kegiatan bimbingan, pengarahan, koordinasi, dan
pengawasan.
Ø Sikap Kepemimpinan Dalam Organisasi yang Baik
1.
Tindakan
kepemimpinan yang efektif
Penting bagi
seorang pemimpin untuk dapat dipercaya dan memiliki karakter yang kuat. Seorang
pemimpin harus mampu memimpin para pengikutnya. Kepemimpinan dalam organisasi
yang efektif harus melibatkan dan
membimbing para pengikutnya ke arah yang benar, membantu mereka mencapai tujuan
yang diharapkan. Adapun strategi kepemimpinan yang efektif diantaranya :
a.
Mengetahui
keadaan anak buah
b.
Menghargai
orang lain
2.
Menjadi
Antusias
Seorang pemimpin
organisasi yang antusias adalah pemimpin
yang baik. Tujuannya adalah memotivasi pengikutnya untuk bekerja dan
merealisasikan rencana. Keterampilan kepemimpinan dalam organisasi sangat
mendorong para pengikutnya untuk mengambil upaya menuju tujuan yang diharapkan
dalam organisasi. Seorang pemimpin yang antusias dan berpikiran terbuka akan
lebih didekati oleh para pengikutnya.
3.
Menjadi
percaya diri
Kepercayaan diri
adalah penentu kunci dari kepemimpinan dalam organisasi. Tanpa kepercayaan
diri, seorang pemimpin tidak bisa mengharapkan orang lain untuk mengikutinya.
Kepercayaan diri yang dimiliki seorang pemimpin dalam dirinya, diterjemahkan ke
dalam tindakan untuk mengambil keputusan yang tepat dan tindakan yang efektif.
4.
Sikap
tenang
Mampu bersikap
tenang dalam setiap situasi adalah bagian penting dari menjadi seorang pemimpin
yang baik. Rasa tenang membantu dalam mengambil keputusan yang tepat. Dalam
situasi apapun pemimpin tidak boleh kehilangan ketenangan karena hal itu akan
mengganggu proses pengambilan keputusan organisasi dan berpengaruh pada tujuan
organisasi.
B.
POWER DAN POLITICS
v Pengertian Kekuasaan (Power)
Kekuasaan (Power) mengacu pada kemampuan yang
dimiliki A untuk memengaruhi perilaku B sehingga B bertindak sesuai dengan
keinginan A. Mungkin aspek terpenting dari kekuasaan adalah bahwa hal ini
merupakan fungsi ketergantungan (dependency). Semakin besar
ketergantungan B pada A, semakin besar pula kekuasaan A dalam hubungan tersebut
v Landasan Kekuasaan
1.
Kekuasaan
Formal
Kekuasaan formal
didasarkan pada posisis seorang individu dalam sebuah organisasi. Kekuasaan
formal dapat berasal dari kemampuan untuk memaksa atau memberi imbalan, atau
dari wewenang formal.
a.
Kekuasaan
Koersif
Landasan
kekuasaan koersif (coercive power) adalah rasa takut. Seseorang
memberikan reaksinya terhadap kekuasaan ini karena rasa takut terhadap
akibat-akibat negatif yang mungkin terjadi jika ia tidak patuh. Kekuasaan
koersif mengandalkan aplikasi, atau ancaman aplikasi, sanksi fisik, yang
menimbulkan rasa sakit, menimbulakan frustrasi melalui pembataasan gerak, atau
pengendalian paksa terhadap kebutuhan dasar fisiologis atau keamanan.
b.
Kekuasaan
Imbalan
Kebalikan dari
kekuasaan koersif adalah kekuasaan imbalan (reward power). Orang
memenuhi keinginan atau arahan orang lain karena dengan berbuat demikain, ia
akan mendapatkan manfaat positif. Karena itu, seseorang yang dapat membagikan
imbalan atau penghargaan yang dipandang orang lain bernilai akan memiliki
kekuasaan atas orang lain itu. Imbalan ini bersifat finansial – seperti
pengendalian tingkat upah, kenaikan upah, dan bonus; atau nonfinansial –
termasuk pengakuan, promosi, penugasan kerja yang menarik kolega yang ramah,
dan wilayah kerja atau wilayah penjualan yang lebih disukai.
c.
Kekuasaan
Legitimasi
Dalam kelompok
atau organisasi formal, mungkin akses yang paling mudah ditemui pada satu atau
lebih landasan kekuasaan adalah posisi struktural seseorang. Hal ini disebut
kekuasaan legitimasi (legitimate power).
Kekuasaan ini melambangkan kewenangan formal untuk mengendalikan dan
memanfaatkan sumber-sumber daya organisasi.
2.
Kekuasaan
Pribadi
a.
Kekuasaan
karena Keahlian
Kekuasaan karena
keahlian (expert power) adalah pengaruh yang diperoleh dari keahlian,
keterampilan khusus, atau pengetahuan. Keahlian telah menjadi salah satu sumber
pengaruh yang paling kuat karena dunia sudah semakin berorientasi pada
teknologi. Karena pekerjaan semakin terspesialiasi, kita menjadi semakin
bergantung kepada para ahli untuk mencapai tujuan
b.
Kekuasaan
Rujukan
Kekuasaan
rujukan (referent power) didasarkan pada identifikasi terhadap seseorang
yang memiliki sumber daya atau sifat-sifat personal yang menyenangkan. Jika
saya menyukai, menghormati, dan mengagumi Anda, Anda dapat menjalankan
kekuasaan atas saya karena saya inginkan menyenangkan hati Anda.
Kekuasaan rujukan berkembang dari kekaguman terhadap orang lain dan hasrat
untuk menjadi seperti orang itu.
v Pengertian Politik (Politic)
Dalam kasus ini perilaku politik didefinisikan sebagai
aktivitas yang tidak dianggap sebagai bagian dari peran formal seseorang dalam
organisasi, namun yang mempengaruhi atau berusaha mempengaruhi distribusi
keuntungan dan kerugian didalam organisasi tersebut.
v Faktor-faktor yang Berkontribusi terhadap
Perilaku Politik
Tidak semua
kelompok atau organisasi sama politisnya. Penelitian dan observasi baru-baru
ini telah mengidentifikasikan beberapa faktor yang kiranya mendorong perilaku
poltik. Faktor-faktor tersebut adalah faktor individu dan faktor organisasi.
a)
Faktor
Individu
·
Kemampuan
merefleksi diri yang baik
·
Pusat
Kendali Internal
·
Kepribadian
yang lincah
·
Investasi
Organisasi
·
Alternatif
pekerjaan lain
·
Harapan
akan kesuksesan
b)
Faktor
Organisasi
·
Realokasi
sumber daya
·
Peluang
promosi
·
Tingkat
kepercayaan rendah
·
Ambiguitas
peran
·
Sistem
evaluasi kerja tidak jelas
·
Praktik
imbalan zero-sum
·
Pengambilan
keputusan yang demokratis
·
Tekanan
kinerja tinggi
·
Manajer
senior yang egois
III.
PEMBAHASAN KASUS
Ramona menyadari
bahwa orang yang paling menentang itu merupakan orang yang paling tahu akan
kelemahan dari perubahan tersebut. Dengan hal itu ia berpendapat bahwa orang
yang lebih tahu akan kelemahan perubahan tersebut layak untuk menjadi pemimpin
dibandingkan dengan yang menyetujuinya. Dalam kasus ini Ramona merupakan tipe
pemimpin yang demokratis, dia mempertimbangkan pendapat-pendapat dari
bawahannya, melakukan musyawarah dan memberikan kesempatan terhadap pihak
oposisinya. Saya setuju dengan tindakan Ramona, hal ini disebabkan dengan
menempatkan pemimpin oposisi yang mengetahui kelemahan serta kekurangan dari
perubahan yang akan diimplementasikan, maka pemimpin tersebut diharapkan akan
melakukan perubahan dan perbaikan sehingga perubahan itu dapat semakin berkembang
dan menjadi lebih baik lagi.
IV.
KESIMPULAN
Dalam
sebuah organisasi tentunya harus mempunyai seorang pemimpin yang dapat mengatur
sumber daya organisasi agar dapat mencapai tujuan organisasi secara efektif dan
efisien sehingga berdaya guna dan berhasil guna. Seorang pemimpin memiliki gaya
kepemimpinannya masing-masing yang berbeda satu sama lain. Saat ini, terdapat
enam tipe kepemimpinan yang sering digunakan oleh para pemimpin besar maupun
dalam ruang lingkup kelompok sampai organisasi besar. Efektivitas dalam sebuah
kelompok dapat ditentukan juga oleh sikap dan perilaku seorang pemimpin.
Pada
hakekatnya, kekuasaan merupakan kapasitas yang dimiliki seseorang untuk
mempengaruhi cara berpikir dan berperilaku orang lain sesuai dengan yang
diinginkannya. Kekuasaan tersebut dapat diperoleh dari berbagai sumber yang
dibedakan menjadi kekuasaan formal dan kekuasaan personal. Kekuasaan biasanya
identik dengan politik. Politik sendiri diartikan sebagai upaya untuk ikut
berperan serta dalam mengurus dan mengendalikan urusan masyarakat.
Penyalahgunaan kekuasaan pada dunia politik yang kerap dilakukan oleh pelaku
politik menimbulkan pandangan bahwa tujuan utama berpartisipasi politik
hanyalah untuk mendapatkan kekuasaan. Padahal, pada hakekatnya penggunaan
kekuasaan dalam politik bertujuan untuk mengatur kepentingan masyarakat
seluruhnya, bukan untuk kepentingan pribadi ataupun kelompok. Untuk itu, adanya
pembatasan kekuasaan sangat diperlukan agar tumbuh kepercayaan masyarakat
terhadap pemegang kekuasaan dan terciptanya keadilan serta kenyamanan dalam
kehidupan.
DAFTAR ISI
http://fachmixyz.blogspot.co.id/2015/04/kepemimpinan.html
http://locusfisipunipas.blogspot.co.id/2013/12/kepemimpinan-dalam-organisasi.html
http://sopianamilah.blogspot.co.id/2012/07/kekuasaan-dan-politik.html
http://wendrastari.blogspot.co.id/2014/01/teori-dan-contoh-kasus-kepemimpinan.html
http://israyanibeta.blogspot.co.id/2013/11/perilaku-organisasi.html
tukang copas bajingan keparat
BalasHapus