Sabtu, 26 September 2015

Kepribadian


I. KASUS

Terdapat dua orang yang rajin dan tekun, namun keduanya menunjukkan sikap yang berbeda walaupun memiliki kepribadian yang sama atau serupa. Orang pertama sebut saja Ami merupakan anak yang rajin dalam mempelajari pelajaran baru yang ia terima sehingga ia selalu berusaha mencari tahu lebih dalam mengenai apa yang ia pelajari saat itu, sehingga ia mempelajari pelajaran tersebut dalam satu waktu dan merangkumnya dalam buku agar saat dibutuhkan dapat kembali dibaca.
Berbeda dengan orang kedua, sebut saja Della merupakan anak rajin, namun ia memiliki cara yang berbeda dengan Ami dalam mempelajari pelajaran baru. Della terbiasa mempelajari setiap pelajaran secara rutin dengan setiap jadwal yang telah ia tentukan. Misalnya, ia akan rutin mempelari pelajaran matematika secara continue setiap hari rabu dan kamis, lalu pelajaran ipa setiap senin, pelajaran ips setiap selasa, dan seterusnya. Della terbiasa belajar setiap waktu subuh karena menurutnya itu waktu yang tepat untuk menghapal pelajaran karena otak masih fresh sehingga saat ada ujian ia tidak perlu menghapal pelajaran terlalu keras.

II. TEORI

Menurut Gordon Aliport, Kepribadian adalah organisasi dinamis dalam sistem psikofisiologis individu yang menentukan caranya untuk menyesuaikan diri secara unit terhadap lingkungannya. Faktor-faktor Penentu Kepribadian :
1.       Faktor Keturunan
Ada tiga dasar yang menjelaskan bahwa faktor keturunan menentukan kepribadian seseorang:
a.       Berfokus pada penyokong genetis dari perilaku dan temperamen anak-anak.
Bukti menunjukkan bahwa sifat-sifat seperti perasaan malu, rasa takut, dan agresif dapat dikaitkan dengan karakteristik genetis bawaan.
b.      Berfokus pada anak-anak kembar yang dipisahkan sejak lahir.
Kepribadian anak kembar yang dibesarkan dikeluarga yang berbeda ternyata lebih mirip dengan saudara kembarnya dibandingkan kepribadian seorang kembar identik dengan saudara-saudara kandungnya yang dibesarkan bersama-sama.
c.       Meneliti konsistensi kepuasan kerja dari waktu ke waktu dan dalam berbagai situasi
2.       Faktor Lingkungan
Faktor lain yang memiliki pengaruh cukup besar terhadap pembentukan karakter adalah lingkungan di mana kita tumbuh dan dibesarkan, norma dalam keluarga, teman-teman, dan kelompok sosial, dan pengaruh-pengaruh lain yang kita alami. Faktor-faktor lingkungan ini memiliki peran dalam membentuk kepribadian kita.
MBTI adalah instrumen penilaian kepribadian yang paling sering digunakan. Instrumen berisi 100 pertanyaan mengenai bagaimana individu akan merasa atau bertindak dalam situasi tertentu. Individu diklasifikasikan ke dalam karakteristik sebagai berikut :
1)      Ekstraver versus Introver
Individu dengan karakteristik ekstraver digambarkan sebagai individu yang ramah, suka bergaul, dan tegas, sedangkan individu dengan karakteristik introver digambarkan sebagai individu yang pendiam dan pemalu.
2)      Sensitif versus Intuitif
Individu dengan karakteristik sensitif digambarkan sebagai individu yang praktis dan lebih menyukai rutinitas dengan urutan. Sebaliknya, individu dengan karakteristik intuitif mengandalkan proses-proses tidak sadar dan melihat gambaran umum.
3)      Pemikir versus Perasa
Individu yang termasuk dalam karakteristik pemikir menggunakan alasan dan logika untuk menangani berbagai masalah, sedangkan individu dengan karakteristik perasa mengandalkan nilai-nilai dan emosi pribadi sendiri.
4)      Memahami versus Menilai
Individu yang cenderung memiliki karakteristik memahami menginginkan kendali dan lebih suka dunia mereka teratur dan terstruktur, sedangkan individu dengan karakteristik menilai cenderung lebih fleksibel dan spontan.
Model lima besar, John Bearden telah membuktikan bagaimana cara membuat dan memikirkan kembali cara mengatur individu. Selama beberapa tahun terakhir penelitian mendukung bahwa 5 dimensi dasar saling mendasari dan mencakup sebagian besar variasi yang signifikan dalam kepribadian manusia. Faktor 5 besar mencakup :
a         Ekstraversi (exstraversion)
Dimensi ini mengatakan tingkat kenyamanan seseorang dalam berhubungan dengan individu lain. Individu yang Ekstraversi cenderung suka berkelompok, tegas, dan mudah bersosialisasi; sebaliknya introversi cenderung suka menyendiri dan pendiam.
b        Mudah akur dan bersepakat (Agreeblesness)
Dimensi ini mengatakan kepatuhan individu terhadap individu yang lainnya. Individu yang suka besepakat adalah individu yang senang bekerjasama, hangat dan penuh kepercayaan. Sebaliknya individu yang tidak suka bersepakat cenderung dingin, tidak ramah dan suka menantang.
c         Sifat berhati-hati (Conscientiousness)
Dimensi ini merupakan ukuran kepercayaan artinya individu yang sangat berhati-hati adalah yang bertanggung jawab, teratur, dapat diandalkan serta gigih; sebaliknya individu yang berhati-hati rendah cenderung mudah bingung, tidak teratur serta tidak dapat diandalkan.
d        Stabilitas emosi (Emotional Stability)
Dimensi ini menilai kemampuan seseorang untuk menahan stress. Individu yang tingkat emosi yang positif cenderung tenan, percaya diri dan memiliki pendirian yang teguh. Sebaliknya Individu yang tingkat emosi yang negative cenderung mudah gugup, khawatir, depresi dan tidak memiliki penndian yang teguh.
e        Terbuka terhadap hal-hal baru (Openess to Experience)
Dimensis ini mengelompokan individu berdasarkan lingkup minat dan ketertarikannya terhadaphal-hal baru. Individu yang sangat terbuka cenderung kreatif, ingin tau, dan sensitive terhadap hal-hal yang bersifat seni. Sebaliknya mereka yang tidak terbuka cenderung konvensional dan merasa nyaman dengan hal-hal yang sudah ada.

III. PEMBAHASAN KASUS

Dalam kasus diatas dapat disimpulkan bahwa setiap individu memiliki kepribadian yang berbeda-beda. Seperti Ami dapat diklasifikasikan ke dalam karakteristik Intuitif yaitu individu dengan mengandalkan proses-proses tidak sadar dan melihat gambaran umum, sedangkan Della dapat diklasifikasikan ke dalam karakteristik Sensitif yaitu sebagai individu yang praktis dan lebih menyukai rutinitas dengan urutan.

IV. KESIMPULAN

Kepribadian adalah ciri atau karakteristik atau gaya atau sifat- sifat khas diri kita yang bersumber dari bentukan-bentukan yang kita terima dari lingkungan, misalnya, keluarga pada masa kecil kita dan juga bawaan-bawaan kita sejak lahir. Jadi yang disebut kepribadian itu sebetulnya adalah campuran dari hal-hal yang bersifat psikologis kejiwaan dan juga yang bersifat fisik.     



DAFTAR PUSTAKA

https://personalityulfafauziyyah.wordpress.com/2013/12/22/contoh-kasus-kepribadian-trait/
http://cah-canggading.blogspot.co.id/2011/12/perilaku-organisasi-kepribadian-dan.html
http://viapurwawisesasiregar.blogspot.co.id/2014/03/makalah-tentang-teori-kepribadian.html

Senin, 21 September 2015

Perbedaan Dalam Organisasi

I. KASUS
                Pada suatu perusahaan terjadi perdebatan pendapat antara karyawan lama dengan karyawan baru. Karyawan lama tetap berdiri dengan pendapatnya yang dianggap paling benar karena ia sudah bekerja lebih lama jadi ia menganggap dirinya sebagai senior di perusahaan tersebut dan selama ini perusahaan menggunakan pendapatnya itu. Tetapi karyawan baru pun yakin akan pendapatnya yang menurutnya itu lebih efektif dan efesien.

II. TEORI
                Dalam ilmu manajemen, seorang manajer harus mengetahui perilaku individu. Perilaku  individu dalam organisasi merupakan bentuk interaksi antara karakteristik individu dengan karakteristik organisasi. Perilaku setiap individu dalam organisasi berbeda-beda, karena setiap individu memiliki karakteristik yang berbeda. Karakteristik yang dibawa individu akan dibawa ketika individu tersebut memasuki lingkungan baru yaitu organisasi, dan organisasi juga merupakan suatu lingkungan yang memiliki karakteristik tersendiri, jadi terkadang terjadi disconnect antara karakter individu dengan karakter organisasi. Faktor yang mempengaruhi hal itu adalah :
1.       Karakteristik Biografis, mencakup :
a.  Umur : umur berpengaruh terhadap bagaimana perilaku induvidu, termasuk bagaimana kemampuannya untuk bekerja, dan merespon stimulus yang diberikan individu lainnya.
b.     Jenis kelamin : wanita lebih patuh terhadap aturan dan otoritas, sedangkan pria lebih agresif sehingga lebih besar mencapai kesuksesan walaupun perbedaan itu terbukti sangat kecil.
c.      Status perkawinan : penelitian membuktinkan bahwa orang yang telah berumah tangga relatif lebih baik dibandingkan dengan yang masih single.
d.     Jumlah atau banyaknya tanggungan : penelitian menunjukkan bahwa lebih banyak tanggungan dalam keluarga berpengaruh terhadap produktivitas karyawan.
e.      Masa kerja : revelensi masa kerja adalah berkaitan dengan senioritas dalam pekerjaan.
2.    Kepribadian : kepribadian sebagai cara dengan mana individu bereaksi dan berinteraksi dengan orang lain. Bentuk-bentuk kepribadian pada akhirnya mempengaruhi perilaku organisasi.
3.     Kemampuan : yang dimaksud dengan kemampuan adalah kapasitas seseorang untuk melaksanakan beberapa kegiatan dalam satu pekerjaan. Untuk mencapai tujuan organisasi diperlukan kemampuan yang terstruktur untuk mengeksploitasi kinerja-kinerja yang menghasilkan produktifitas.
4.    Pembelajaran atau Belajar : belajar adalah proses perubahan yang relatif konstan dalam tingkah laku yang terjadi karena adanya pengalaman atau latihan. Belajar tidak hanya mengubah sikap dan pikiran tetapi yang lebih penting lagi belajar harus mengubah perilaku subjek ajar.
5.     Sikap : sikap merupakan faktor yang harus dipahami agar dapat memahami individu lain. Dengan saling memahami sikap individu maka organisasi dapat berjalan dengan baik.
6.   Persepsi : merupakan suatu proses memperhatiakan dan menyeleksi, mengorganisasikan, dan menafsirkan stimulus lingkungan.
7.     Kepuasan kerja : kepuasan kerja mempengaruhi produktifitas atau kinerja karyawan, semakin puas individu tersebut dalam bekerja maka akan betah berada dalam organisasi, dan bila individu tidak puas maka akan mempengaruhi kinerjanya, seperti berhenti kerja atau selalu terlambat datang.
8.  Stress : stresss dapat mengakibatkan tidak sinkronnya mental dan fisik individu, yang bisa menyebabkan menjadi tidak produktif individu tersebut dalam organisasi.

III. PEMBAHASAN KASUS DAN TEORI
Dalam kasus diatas dapat diatasi dengan saling menghargai pendapat satu sama lain dan semuanya harus kembali pada komitmen dan visi misi perusahaan. Karyawan lama tidak selamanya benar dan tidak salah juga tetapi mungkin karyawan baru yang memiliki pengetahuan akan teknologi maju mengetahui langkah-langkah yang lebih efektif dan efisien. Sebagai karyawan yang baik mereka harus mengutamakan perusahaan dan mengambil keputusan yang dapat menguntungkan perusahaan.

IV. KESIMPULAN
                Dalam mengelola organisasi, seorang manager atau pemimpin harus memahami perilaku kelompok sebagai landasan untuk mengelola orang-orang yang ada di dalamnya. Masalah perilaku individu maupun kelompok merupakan salah satu masalah yang sangat rumit yang dihadapi oleh semua manager di berbagai organisasi, oleh karena itu perlu sekali mempelajari dan memahami agar tujuan organisasi dapat dicapai secara efektif dan efisien.


DAFTAR PUSTAKA

http://kartika-s-n-fisip08.web.unair.ac.id/artikel_detail-37086-hardskill%20-PERILAKU%20INDIVIDU%20DALAM%20ORGANISASI%20.html